{"id":1907,"date":"2025-11-04T23:21:52","date_gmt":"2025-11-04T23:21:52","guid":{"rendered":"https:\/\/arsiponline.com\/?p=1907"},"modified":"2025-11-04T23:21:52","modified_gmt":"2025-11-04T23:21:52","slug":"sidang-tpp-lapas-labuhan-ruku-87-warga-binaan-jalani-penilaian-menuju-pembebasan-bersyarat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/2025\/11\/04\/sidang-tpp-lapas-labuhan-ruku-87-warga-binaan-jalani-penilaian-menuju-pembebasan-bersyarat\/","title":{"rendered":"Sidang TPP Lapas Labuhan Ruku, 87 Warga Binaan Jalani Penilaian Menuju Pembebasan Bersyarat"},"content":{"rendered":"<p><strong>Batubara, 4 November 2025<\/strong> \u2014<br \/>\nSebanyak <strong>87 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Labuhan Ruku<\/strong> mengikuti <strong>Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP)<\/strong> yang digelar di aula Lapas, Selasa (4\/11). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses evaluasi pembinaan dan penilaian perilaku warga binaan sebelum diberikan hak integrasi.<\/p>\n<p>Dari total peserta, <strong>39 warga binaan mengajukan Pembebasan Bersyarat (PB)<\/strong>, <strong>12 orang Cuti Bersyarat (CB)<\/strong>, <strong>10 orang menjadi tamping<\/strong>, dan <strong>26 warga binaan mengikuti program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)<\/strong> sebagai bentuk pembinaan lanjutan.<\/p>\n<p><strong>Kalapas Kelas IIA Labuhan Ruku<\/strong> menyampaikan bahwa sidang TPP merupakan langkah krusial untuk memastikan kesiapan warga binaan kembali ke masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya <strong>peran serta keluarga<\/strong> dalam proses tersebut.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cSaya harapkan keluarga hadir dalam Sidang TPP, karena salah satu syarat utama adalah adanya penjamin dari pihak keluarga. Ini penting untuk memastikan dukungan moral dan pengawasan setelah bebas,\u201d ujar Kalapas.<\/p><\/blockquote>\n<p>Kalapas menjelaskan, pelibatan keluarga bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi bagian dari upaya mencegah <strong>residivisme<\/strong> atau pengulangan tindak pidana.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cSering kali penjamin bukan keluarga, padahal ini berisiko. Penjamin haruslah keluarga yang bisa mengarahkan dan mendampingi warga binaan setelah bebas,\u201d tegasnya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Dalam kesempatan itu, Kalapas juga menyoroti masih tingginya angka mantan narapidana yang kembali terjerat kasus hukum akibat minimnya kontrol sosial dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Ia berharap keterlibatan keluarga dapat membantu memperkuat proses reintegrasi sosial warga binaan.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKami berharap keluarga benar-benar terlibat, agar mereka tidak kembali ke jalan yang salah. Pembinaan tak berhenti di dalam Lapas, tapi berlanjut setelah mereka kembali ke masyarakat,\u201d tambahnya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Kalapas menegaskan, hak integrasi hanya diberikan kepada warga binaan yang <strong>taat aturan, aktif dalam kegiatan pembinaan, dan menunjukkan perubahan perilaku positif<\/strong>. Dengan pelaksanaan Sidang TPP secara berkala, Lapas Labuhan Ruku berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan serta menekan angka pelanggaran dan residivis di masa mendatang.<strong><em>il_06<\/em><\/strong><\/p>\n<hr \/>\n<p>#SahabatLalaku #LapasLabuhanRuku #SidangTPP #WargaBinaan #PembebasanBersyarat #ReintegrasiSosial #Pemasyarakatan #KemenkumhamSumut #BatuBaraBerkarya #Pengayoman<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Batubara, 4 November 2025 \u2014 Sebanyak 87 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Labuhan Ruku mengikuti Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) yang digelar di &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1908,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[257],"tags":[],"class_list":["post-1907","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-menkumham"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1907","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1907"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1907\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1909,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1907\/revisions\/1909"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1908"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1907"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1907"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1907"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}