{"id":123,"date":"2024-02-24T03:02:30","date_gmt":"2024-02-24T03:02:30","guid":{"rendered":"https:\/\/arsiponline.com\/?page_id=123"},"modified":"2024-02-24T03:02:30","modified_gmt":"2024-02-24T03:02:30","slug":"kode-etik","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/kode-etik\/","title":{"rendered":"KODE ETIK"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-family: 'times new roman', times, serif;\">Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-family: 'times new roman', times, serif;\">Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-family: 'times new roman', times, serif;\">Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-family: 'times new roman', times, serif;\">Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-family: 'times new roman', times, serif;\">Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme.<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-123","page","type-page","status-publish","hentry"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/123","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/123\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":124,"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/123\/revisions\/124"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arsiponline.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}